DARI MANA SUMBER DANA APLIKASI MENULIS NOVEL YANG MENGHASILKAN UANG?

Sumber Dana Aplikasi Menulis Novel

Pasca ingar-bingar permasalahn Hotbuku yang mencuak awal September 2021 seperti yang telah dikemas ke dalam artikel sebelumnya : “Ada Apa dengan HotBuku?”, banyak kalangan author bertanya-tanya …

Kira-kira, dari mana sumber dana platform menulis novel yang bersedia membayar author atas karya yang telah berhasil diterbitkan di media-nya?

Platform menulis yang menghasilkan uang tentu ada ada banyak jumlahnya di Indonesia, seperti HotBuku asal Hongkong dan GoodNovel yang berkantor di Singapura.

Sebelumnya ada KBM yang dikembangkan oleh salah satu penulis Indonesia kawakan, Storial yang didirikan oleh Brilian Yotenege, Steve Wirawan serta Aulia Halimatussadiah, dan ada NovelMe yang sudah duluan naik daun.

Mungkin, beberapa waktu ke depan akan hadir platform menulis lain besutan Indonesia yang ikut meramaikan panggung di pergulatan dunia menulis tanah air. Cabaca salah satunya, masih eksis sampai sekarang meskipun platform-nya benar-benar bukan untuk author pemula mencari nafkah.

Selain itu, ada pula Ketix dengan nasibnya yang kurang cemerlang. Entahlah, padahal Ketix memiliki potensi yang bagus, tapi entah bagaimana kabarnya sekarang.

BAGAIMANA SEBUAH PLATFORM MENULIS MENDAPATKAN DANA DAN MENGAPA DIA BERANI MEMBAYAR KAMU?


Di Internet, ada banyak cara mendapatkan uang dengan menulis novel. Beberapa cara paling terkenal ialah menulis di platform menulis novel seperti; Dreame, NovelMe, KBM, Storial, Cabaca, GoodNovel dan Hotbuku.

Aplikasi menulis novel dapat uang pertama di Indonesia adalah Storial.co, sedangkan situs menulis cerita dibayar pertama di dunia adalah Mirror.xyz yang memberikan uang digital ke authornya.

Nah, pernakah kamu berpikir … dari mana sumber dana aplikasi menulis novel yang membayar authornya?

Berikut ini, sumber dana platform menulis novel online atau aplikasi webnovel yang gratis dan yang berani membayar kamu menurut hasil pengamatan saya dan ini benar-benar opini saya pribadi selaku penulis artikel ini.

1. Iklan dari Aplikasi

Google Admob menjadi sumber keuangan pertama bagi aplikasi menulis novel. Namun, hasil dari iklan yang ditayangkan di aplikasi nilainya tidak terlalu besar dan tidak dapat diandalkan jika author yang berkarya di sana mendapatkan bayaran dari karya tulisnya.

Diperkirakan, pengembang aplikasi hanya akan mendapatkan 70% hasil iklan yang ditayangkan, sedangkan 30%-nya akan masuk ke pemilik penyedia iklan.

Dana yang didapatkan dari iklan yang tayang di aplikasi sekiranya dapat mengatasi biaya pegembangan dan penanganan aplikasi. Wattpad salah satunya serta kebanyakan platform menulis novel gratis biasanya memanfaatkan iklan sebagai sumber keuangannya.

2. Biaya Freemium

Freemium terdengar seperti kata premium yang memiliki makna bermutu atau hadiah untuk pembeli dan pelanggan. Di beberapa aplikasi menulis novel, pembaca ditawarkan biaya freemium untuk membatasi tayangan iklan atau bahkan memblokir iklannya agar tidak menganggu ketika sedang membaca novel.

Selain itu, freemium juga menawarkan pembelian mata uang digital yang dapat digunakan sebagai biaya membuka layanan khusus, yang hanya bisa diakses dengan membelinya melalui mata uang di dalam aplikasi.

Tidak hanya itu, freemium juga memberikan keuntungan bagi pembaca atau pengguna aplikasi membaca novel dengan tawaran berlangganan khusus. Tentu, setiap platform memiliki benefit atau keuntungan berlangganan yang berbeda-beda.

3. Berlangganan

Salah satu contoh platform menulis yang harus mewajibkan pembacanya untuk berlangganan terlebih dahulu agar dapat mengakses karya tulis yang diterbitkan di medianya misalnya Karyakarsa. Pihak pengembang akan memberikan 90% pendapatan yang berhasil didapatkan author di sana.

Akhir-akhir ini, sosial media juga ikut meramaikan model berlangganan. Misalnya Facebook dengan Facebook Buletin dan ada Revue milik Twitter.

4. Penggalangan Dana

Agak susah membicarakan penggalanan dana sebagai sumber keuangan bagi sebuah aplikasi menulis novel yang sengaja mengadakan sebuah event tertentu untuk mendukung suatu hal. Tentu, penggalanan dana tidak benar-benar murni bertujuan secara sukarela.

Ada hal-hal terkait yang sengaja dikaitkan agar dapat mencapai sesuatu yang diinginkan. Well, kita tidak boleh berburuk sangka, tetapi sebuah event pastilah harus menguntungkan meskipun bunyinya berkedok penggalanan dana, kan?

Di mana ada event, di sana ada sponsor.

5. Sponsor

Tentu ada banyak event atau penyelengaraan acara khusus yang dipanitiakan platform yang sering diadakan sebagai bentuk acara tahunan, apresiasi atau memperingati sesuatu.

Ketika acara itu berlangsung, akan ada banyak sponsor yang sengaja digaet untuk ikut meramaikan acara tersebut, tentu saja pihak sponsor akan mendapatkan tujuan dan keuntungan tersendiri.

Misalnya Wattpad dengan sponsor Webtoon pada gelaran Wattys 2019 lalu, kemudian di Wattys 2020, sponsor mengambil alih keseluruhan acara dan bahkan membeli saham Wattpad.

Tentu saja, penggaetan sponsor melibatkan presentasi data, nah di sini nih data kamu mulai menjadi aset atau komoditi sebenarnya. Mulai dari gender, usia, alamat, hobi, kebiasaan, dan data lainnya sengaja dipaparkan agar sponsor tertarik untuk ikut andil bersama dengan event yang diselenggarakan.

Saya pribadi tidak menuduh, tetapi kita sudah tidak asing lagi dengan kebocoran data yang akhir-akhir ini marak diperbincangkan.


Terlepas apa pun itu, platform adalah bisnis dan bisnis adalah bisnis.

Lalu, apa yang dibisniskan sebuah platform menulis? Well, gembar-gembor tentang menyebarkan semangat membaca dan mengepakkan sayap penulis untuk dapat terbang menggapai keinginannya terdengar sangat ironi jika kamu memanfaatkan platform abal-abal yang berani memberikan bayaran ke kamu.

Yeah, hanya karena sekian dollar atau ratusan ribu rupiah bahkan jutaan, kamu rela diperalat begitu saja?

Platform menjual kamu. Ide dan Nama kamu menjadi dagangannya. Tentu kamu akan terus-terusan mempromosikan karya kamu agar dibaca orang lain dengan harapan jika banyak pembaca, maka banyak cuan. Yeah, kamu benar-benar alat yang bagus!

Saya tidak mengatakan kalau platform menulis novel itu merugikan. Tidak! Tidak terdengar seperti itu. Di sini, saya hanya ingin menekankan beberapa pertanyaan.

  • Apakah kontrak yang ditawarkan sudah sesuai dengan yang kamu mampu?
  • Apakah platform menulis novel yang kamu pilih sudah benar-benar legal?
  • Apakah kamu benar-benar menulis untuk mengimprovisasi kemampuan menulis atau sengaja menulis untuk mendapatkan uang dan membuatmu fokus dengan target tantangan?

Yeah, memang di persoalan nomor tiga di atas. Bisa dijawab: jika bisa menghasilkan uang dengan menulis sembari mengimprovisasi kemampuan menulis, mengapa tidak?

Tapi … apakah platform itu benar-benar sesuai dengan jati diri kamu? Karena, jika kamu hanya sekadar ikut-ikutan meramaikan ‘yang katanya’ selera pasar Indonesia. Saya rasa, dunia pernovelan tanah air, akan mati karena cerita yang dihidangkan hanya itu-itu saja.

Salah? Tentu tidak, tapi ... saya khawatir. Karena, banyak di antara kita yang gagal mendapatkan panggung hanya karena beranggapan bahwa selera pembaca Indonesia itu hanya itu-itu saja.


Yeah, kebijakan diri masing-masing lah yang menentukan itu. Jika suka, ya lanjutkan. Jika tidak, sebaiknya kamu memilih penerbit saja sebagai penunjang karir kamu.

Ada kok penerbit yang sengaja menyediakan platfor menulis dengan tujuan mencari naskah potensial. Tidak seperti platform lain yang terus-menerus mengeksploitasi kamu.

Bermutu? Sudah pasti, kan ada tim editornya di sana. Namun, apakah itu berkualitas? Saya geleng kepala kurang yakin, bukan tidak yakin.

-----

Penulis : Alfin E. Libra

Penyunting  dan Publikasi : Hend Jobers.

Posting Komentar

0 Komentar